Saya
adalah seorang mahasiswi universitas Kristen setya wacana salatiga pendidikan
guru sekolah dasar. Nama saya Hamidah. Sangat bertolak belakang dengan sekolah
menengah atasku yaitu SMA Muhammadiyah 04 Andong angkatan 2012. Dimana disana
ku mendapatkan pendidikan agama islam yang mendalam, sedangkan sekarang merosot
menjadi 0 besar. Sejak dari awal memang saya berkehidupan didunia yang agamis.
Selama satu tahun disalatiga rasanya hati saya gersang haus akan ilmu agama.
Tak
lama Sang Maha Pengasih Penyayangpun mengirimkan sosok yang memberi kesejukan
dalam kehidupanku, ia mengajakku mendengarkan gelombang radio di 102.2 fm yang
saat itu masih teringat jelas dalam benakku acaranya pengajian MTA pada hari
minnggu yang dipimpin oleh Pak Ahmad Sukino. Sejak itu sayapun sering
mendengarkan acara-acara yang di siarkan di rario persada fm tersebut. Dengan
diam-diam tanpa sepengetahuan dari keluarga. Selama 5 bulan hanya sebagai
pendengar saja dirasa tidak cukup. Kadangpun dalam iklan radio ada promosi
tentang adanya kajian binaan MTA disetiap daerah-daerah dari situ saya mendapat
kontak person dari cabang binaaan MTA dari salatiga. Namun sayang sekali setiap
saya hubungi nomor tersebut hanya ada suara bising seperti jalannya kereta,
berkali-kali saya coba untuk hubungi masih saja selalu begitu.
saya
berpikiran mencari dari facebook teman sejawat yang tinggal disalatiga dari
akun sosok pemberi kesejukan hidupku tersebut. Mencari dan terus ku cari satu
per satu Akhirnya atas pertolongan Sang Maha Kuasa Ia memberiku teman baru yang
sejawat dari salatiga dia bernama Dewi Sartika. Dari dia pada awal Oktober untuk
yang pertama kali pada hari sabtu tepatnya saya ikut ngaji di Jl Pattimura no
43 dibelakang swalayan zam-zam, Salatiga Jawa Tengah. Alhamdulillah rasanya
senang sekali akhirnya bisa ngaji disana juga bertemu dengan saudari-saudari
ngaji yang baik semua. yang sangat berkesan dalam hatiku saat dibacakan absensi
dimana si ustad mendoakanku semoga bisa istiqomah. Satu kata itu yang sungguh
sangat berat untuk dipertahankan betul-betul.
Namun
tidak semudah itu dalam mengikuti ngaji, banyak tantangan bahkan waktu yang
harus dikorbankan, Karena dalam 2 minggu sekali biasanya saya pulang kampung
pada hari jum’atnya karena dikampus saya setiap sabtu minggu libur. Saya
memutuskan untuk pulang pada hari minggu siang saja pulang kampungnya, balik
lagi kesalatiga senin pagi, Karena jadwal ngaji dilaksanakan tiap hari Sabtu
sore. Jadi hanya sebentar saya singgah dirumah dibanding satu tahun yang lalu.
Kadangpun ibu saya mengeluh pulang kok Cuma sebentar. Walaupun sebentar tetap
saya lakukan karena uang saku hanya diberi cukup dua minggu saja. orang tua
saya pun hanyalah orang biasa tidak punya yang namanya ATM maka saya harus pulang
untuk bisa mencukupi hudup sehari-hari.
Sampai
saat ini ibuku belum tahu bahwa anaknya ngaji di MTA. saya tidak bisa bayangkan
jika suatu saat ibuku tahu, karena ibuku berpaham NU sangat kental, masih
percaya dengan perkataan dukun, masih mengikuti tahlilan orang meninggal, dan
juga yasinan ibu-ibu bahkan Ia yang menjadi pendiri serta pemimpinnya. Semoga
saya bisa tetap istiqomah dalam mengaji Qur’an dan Sunnah bahkan dapat
mengamalkan hasil ngaji.
Salatiga, 24 Desember 2013
Salatiga, 24 Desember 2013
